Cerita Panas Gara-Gara Handphone

cerita-panas-gara-gara-handphoneCerita Panas forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita Mesum forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita Dewasa forumasik.com Gara-Gara Handphone Terbaru. Cerita Sex forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita Hot forumasik.com Gara-Gara Handphone

Kísahku kalí íní terjadí pada awal bulan Meí tahun íní. Saat ítu aku mendapatkan gangguan pada Handphone-ku, karena terjatuh ke dalam aír ketíka aku sedang menjalaní perawatan Spa. Sekretarísku dí kantor menyarankan untuk menservísnya pada tempat servís resmínya. Karena HP-ku adalah merek tertentu, dí mana tempat servís resmínya hanya ada 3 tempat dí kota Kembang íní, maka aku membawanya ke salah satu servís resmínya yang terdapat pada salah satu pusat perbelanjaan dí daerah pusat kota Bandung.

Jumat sore ítu sepulang darí kantor, aku membawa mobílku meluncur ke arah pusat kota, lalu setelah terjebak beberapa saat dalam kemacetan, akhírnya aku berhasíl mendapatkan tempat parkír dí pusat perbelanjaan ítu. Tak beberapa lama, aku telah berhasíl menemukan tempat servís HP ítu. Aku segera masuk ke ruangan ber-AC, dan langsung dísambut dengan senyum manís seorang cowok.

“Ada yang bísa saya bantu, Mbak?” katanya sopan.
“íní níh Mas, HP saya terjatuh dalam aír kemarín, terus jadínya matí, bísa díperbaíkí nggak..”´tanyaku, sambíl menyodorkan HP ítu padanya.
“Sebentar ya Mbak, bíar teknísí kamí yang mengeceknya.”

Día berlalu ke dalam ruangan laín. Lalu tak lama kemudían día muncul lagí dan berkata bahwa HP-ku bísa díservís, día menyebutkan juga bíaya servísnya. Aku menyetujuínya.
“Kíra-kíra masíh lama nggak Mas servísnya?” tanyaku.
“Mungkín sekítar satu jam lah”, jawabnya.
“Ya udah deh, saya tínggal jalan-jalan dulu saja kalí yaa..?” kataku lagí.
“Sílakan.. Mbak”, balasnya.

Aku lalu pergí melíhat baju-baju dí etalase toko, híngga tíba-tíba kurasakan perutku mínta díísí, ternyata aku sadar bahwa aku belum sempat lunch tadí dí kantor. Aku bergegas ke lantaí atas pusat perbelanjaan ítu, dí mana terdapat Food Court. Aku memutuskan untuk masuk pada salah satu restoran fast food yang menyedíakan masakan khas Jepang.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Gara-Gara Handphone”]

Saat aku mengantrí, tíba-tíba ada suara menyapaku darí belakang.
“Wah.. mau makan juga Mbak?” aku menoleh, dan ternyata cowok yang tadí dí tempat servís HP.
“Eh íya, gímana HP saya sudah selesaí belum?” tanyaku.
“Nantí deh selesaí makan palíng juga sudah selesaí.. Boleh saya temaní makan?”
“Wah, beraní juga níh cowok”, kataku dalam hatí.
“Mmm.. boleh deh”, jawabku pendek.

Kemudían kamí mengambíl tempat duduk dan mulaí menyantap hídangan. Dalam hatí kuamatí día, menurutku día anak yang menyenangkan, tídak terlalu tínggí, bahkan bísa díbílang kurus, tapí ada sísí yang menarík. Apalagí setelah aku terlíbat obrolan dengannya, aku makín menyadarí bahwa día adalah seorang yang hangat, humorís, dan selalu nyambung dalam pembícaraan. Híngga aku berínísíatíf untuk melangkah lebíh jauh.

Aku lalu bertanya, “Kamu kapan líburnya?”
“Wah kenapa níh nanya líburku?” día mengangkat alís, dan tersenyum símpul.
“Yaa.. kalau kamu mau síh, aku píngín ajak kamu jalan nantí malam, sekalían kíta weekend lah”, tawarku.
“Wuah, seríus níh..?” dengan nada tak percaya.
“Aku bísa mínta íjín dua harí buat besok dan harí Mínggunya, tapí ngomong-ngomong kamu mau ajak aku jalan ke mana?” día masíh kelíhatan tídak percaya.
“Udah deh, nggak perlu nanya-nanya, líhat aja nantí..” aku membuatnya penasaran.
Lalu setelah sepakat bertemu dí suatu tempat nantí malam, aku segera kembalí ke tempat día kerja untuk mengambíl HP-ku yang telah selesaí díservís, dan segera pergí sambíl menyusun acara buat berdua.

Aku membawa mobílku ke arah Dago atas, menuju ke sebuah hotel bíntang líma dan mem-bookíng kamar untuk tíga malam selama weekend, kemudían segera pulang ke rumah untuk mengambíl baju dan keperluan sekedarnya.

Sekítar jam 11 malam, aku pergí menemuínya dí sebuah Café yang terletak dí persímpangan líma jalan besar, yang nama Cafe-nya selalu mengíngatkanku pada salah satu posísí bercínta. Malam ítu día mengenakan kemeja bíru gelap, dan tercíum olehku wangí Tommy Hílfíger darí tubuhnya, día makín terlíhat tampan, dengan rambut basah yang tersísír rapí ke belakang.

“Haí, sudah lama kamu dí síní?” aku menyapanya pelan.
“Enggak juga kok”, día terdíam sejenak, memandangíku lama.
“Kenapa síh, kayak líhat makhluk aneh saja..!” aku merasa jengah dípandangí sepertí ítu.
Tíba-tíba día menarík lenganku, dan berbísík dí telíngaku, “Kamu cantík sekalí malam íní Díní.. mímpí apa aku híngga bísa kencan dengan bídadarí darí kayangan sepertímu?”.
Wajahku bersemu merah mendengar pujíannya, “Kamu berlebíhan deh, bíasa aja kenapa síh.” aku segera mengalíhkan perhatían dengan memesan Black Russían pada waíter yang kebetulan lewat dí dekat kamí duduk.

Lalu tak lama kamí telah terlíbat dalam obrolan yang menyenangkan, kadang díselíngí dengan humor segar, día sangat píntar mencíptakan suasana yang hangat. Aku jadí tahu bahwa día adalah lulusan sebuah sekolah paríwísata yang terkenal dí Balí, dan sempat tínggal dí Ameríka selama dua tahun, tídak heran wawasannya begítu luas.

“Jadí kerjaan kamu yang sekarang, nggak ada nyambung-nyambungnya sama background pendídíkan kamu dong?”
“íya síh, ha.. ha..” día tertawa renyah.
Aku mengeluarkan cígarette pack, mengambíl sebatang Caprí, belum sempat aku menyalakan, día berínísíatíf mengangsurkan apí buat rokokku.
“Thank”, kataku pendek.
“Hmm, perhatían juga..” batínku.
“Mau cabut sekarang?” tawarku.
Día memandang sekelílíng, “Mmm, ayolah.. eh tapí ke mana?”
´ “Ke hotel S**** (edíted), mau nggak?” tawarku.
“Oh.. eh”, día terbelalak, seakan tídak mempercayaí apa yang baru saja dí dengarnya.
“Tawaran nggak datang dua kalí lho..” aku kedípkan mata.
“Ayolah”, akhírnya setelah beberapa saat día jawab juga dengan wajah berbínar.
Kupíkír aku akan menyumpahínya kalau sampaí día menolak ajakanku, barangkalí aku akan bílang bahwa día adalah lakí-lakí palíng tolol dí seluruh dunía, atau barangkalí seorang gay, tapí ternyata tawaranku yang menang. Aku senang.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Gara-Gara Handphone”]

Kemudían kamí berlalu darí tempat ítu, mobíl langsung kubawa ke arah Dago atas, dan langsung menuju Hotel S**** (edíted). Sesampaínya dí kamar, kuletakkan travel bag kecílku, lalu aku ke bathroom untuk bebersíh sebentar. Día menghempaskan pantatnya pada pínggíran bed, dan meraíh remote TV, menyalakannya. Darí bathroom kudengar sayup-sayup suara musík.

Saat aku masíh síbuk dengan contact lens-ku, tíba-tíba píntu bathroom díketuk pelan darí luar. “Dín.. boleh aku masuk bentar, mau pípís níh..” Aku tersenyum, lalu meraíh handel píntu, begítu píntu terbuka sedíkít, ternyata día langsung menerobos masuk dan yang membuatku terkejut, día sudah tídak mengenakan selembar benang pun. Telanjang bulat. Día langsung mendekapku, dan dengan sekalí renggut, handuk yang kupakaí untuk menutupí tubuhku terlepas sudah, jatuh ke lantaí. Bíbírnya langsung menyambar bíbírku, kurasakan lídahnya menjelajahí rongga mulutku dengan penuh nafsu, aku pun membalasnya dengan tak kalah bernafsunya, kadang lídahnya kuhísap, kujílat dan salíng memílín. Kurasakan kewanítaanku mulaí hangat. Cíumannya mulaí menjelajah, darí mulaí leherku yang jenjang, lalu beralíh ke arah telínga, kurasakan gelí luar bíasa menjalarí sekujur tubuhku. Aku makín terangsang.

Tangannya juga beraksí meremas-remas payudaraku, sambíl tak lupa memílín-pílín putíngnya, yang makín mengacung keras karena terangsang, satu tangannya lagí menelusup pada pangkal pahaku, mengusap-usap bukít lembut yang kenyal yang mulaí basah oleh caíran kewanítaanku. Aku tak tínggal díam, tanganku meremas-remas batang kejantanannya yang mulaí tegang dan keras ítu, sambíl perlahan aku mengurutnya lembut. Día meníkmatínya, terdengar lenguhan-lenguhan pendek darí mulut kamí.

“Ouhh.. mmhh.. yahh..”
“Suka Sayang?” desahnya lembut.
“Hmm.. hh..” aku tak mampu menjawabnya, hanya mengangguk pelan, mataku pun telah sayu. Cíumannya makín mengganas, kalí íní kedua putíng payudaraku díhísapnya bergantían, híngga tubuhku serasa díbakar bírahí yang panas. “Auuhh.. oohh.. Sayang.. oohh.. sshh.. ahh..” aku mengerang-erang penuh keníkmatan. Tangannya mulaí beraksí menyíbakkan rerumputan halus dí kewanítaanku, lalu satu jarínya menelusup masuk ke dalam rongga hangatnya, híngga menemukan tonjolan dagíng kecíl, dan segera mengusap-usapnya lembut. Aku menggelínjang-gelínjang keníkmatan. Kewanítaanku kurasakan makín merah, merekah, lícín dan basah oleh lendír yang makín keluar seíríng oleh rangsangan yang kuteríma.

[nextpage title=”4 Cerita Panas Gara-Gara Handphone”]

Kemudían día membímbíngku menuju tempat tídur, lalu menyuruhku telentang sambíl membuka pahaku lebar-lebar, rupanya día akan memberíku oral seks. Aku pun segera menurutí períntahnya, kubuka pahaku lebar-lebar, día lalu merangkak dan mulaí menempatkan mulutnya pada pangkal pahaku, kemudían kurasakan lídahnya yang hangat menyapu kewanítaanku, lalu menelusup ke bagían dalamnya, sambíl sesekalí menghísapnya, menímbulkan suara-suara kecíl yang lucu, begítu hebat rangsangan yang kuteríma darí perlakuannya padaku. Aku makín gíla menggelínjang-gelínjang penuh keníkmatan, belakang kepalanya kupegangí erat-erat dan menyurukkannya makín dalam pada pangkal pahaku. Aku íngín día melumat habís kewanítaanku. Kurasakan kewanítaanku makín basah oleh caíran lendír hangat bercampur líur mílíknya, kadang día malah menghísap-hísap tonjolan dagíng kecíl sebesar bíjí kacang polong dalam kewanítaanku, membuatku makín mengerang-erang dengan penuh keníkmatan, kurasakan sensasí yang luar bíasa hebat, seakan-akan ada hawa panas yang berpangkal darí kewanítaanku menjalarí seluruh syaraf tubuhku.
Aku bermandíkan keríngat, dan mendesah-desah memohon padanya untuk segera menghujamkan batang kejantanannya pada lubang kewanítaanku. “Oohh.. Sayang.. please.. sekarang.. uuhh.. mmhh..” mataku terpejam rapat. “Sebentar”, akhírnya día beranjak, lalu menempatkan ujung kepala batang kejantanannya pada bíbír kewanítaanku, aku membantunya dengan menggenggamnya dan mengarahkannya perlahan memasukí lubang senggamaku yang hangat dan lícín. “Sreett.. sreett..” terasa agak susah, karena batang míllíknya lumayan besar dan panjang. “Wah agak susah yaa..?” día tersenyum, memandangku. Aku berínísíatíf untuk membantunya, dengan berbalík dan langsung kupegang batang kejantanannya, mengarahkannya pada mulut mungílku, lalu langsung kujílatí, kuhísap dan kubasahí dengan líurku. Mulutku terasa penuh menampung kejantanannya, kemudían aku mulaí mengeluar-masukkannya pada mulutku, sambíl sesekalí menghísapnya, híngga kedua pípíku terlíhat kempot, sakíng bernafsunya.

Tubuhnya bergetar hebat meneríma perlakuan lídahku pada kejantanannya, día mendesah-desah, “Ooohh.. Dín.. aauuhh.. ennakk.. egghh.. ouhh.. mm..” Batang kejantanannya keluar masuk dalam mulut mungílku, híngga terlíhat mengkílap karena aír líurku. Setelah kurasa cukup, aku menyuruhnya untuk segera memasukannya pada lubang kewanítaanku, yang sudah tídak sabar lagí menantí untuk díterobosnya. “Sekarang.. Say, ahh”, aku memohon pendek.

Día mengarahkan lagí batang kejantanannya pada mulut kewanítaanku, lalu menekannya sedíkít demí sedíkít, “Srett.. sreett..” kalí íní terasa agak lebíh mudah, aku membantunya dengan menjepítkan kedua kakíku pada pínggangnya, kemudían setelah sekítar sepertíga bagían batang ítu masuk, día tíba-tíba menghujamkannya keras-keras. “Auuhh.. oouuhh.. íyahh.. yahh.. sshh.. hh..” aku berseru pendek saat kurasakan batang ítu masuk menyungkal dalam-dalam pada kewanítaanku.

[nextpage title=”5 Cerita Panas Gara-Gara Handphone”]

Día lalu menggoyang-goyangkan pínggangnya maju-mundur, menghajar lubang kewanítaanku dengan kejantanannya. Aku merasakan keníkmatan luar bíasa berpangkal pada lubang kewanítaanku, híngga makín banyak caíran beníng yang hangat, berbau khas keluar darí kewanítaanku. Aku mengímbangínya dengan íkut bergoyang seírama hujaman tubuhnya kadang kuputar-putar pantatku híngga batangnya makín terjepít erat dalam kewanítaanku. Berdua kamí mengerang-erang terbakar bírahí. “Auuhh.. oohh.. ííyaahh.. yaahh.. yahh.. sshh.. uh.. uh.. oouuww!”

Tíba-tíba bíbírnya melumat bíbírku dengan líarnya, lídah kamí beradu salíng jílat, salíng hísap dengan rakusnya, beberapa saat kemudían mulutnya segera berpíndah pada kedua putíng payudaraku, memberínya gígítan-gígítan kecíl, sementara kejantanannya masíh dengan buasnya menghajar lubang kewanítaanku. Aku benar-benar merasakan nafsu yang begítu panas membara. Híngga akhírnya aku mencapaí puncak, aku menjerít kecíl, “Auuhh.. ouhh.. ouuw.. aku.. auuhh.. aahh.. hh.!” kurasakan seluruh persendían tubuhku berlolosan, tubuhku yang bermandí keríngat bergetar dengan hebatnya, dua tanganku mencakar-cakar punggungnya, saat ítu kurasakan sesuatu meledak darí dalam tubuhku dan memberíkan sensasí hebat ke seluruh saraf tubuhku, kurasakan sangat ríngan sekalí dan níkmat tíada tara, serasa terbang ke nírwana, aku orgasme dengan sempurna.

Día sendírí belum selesaí, día menghentíkan genjotannya pada kewanítaanku, memberíkan kesempatan padaku untuk meníkmatí sensasí orgasme, setelah dírasanya cukup, tanpa mencabutnya dahulu, día langsung mulaí lagí meníngkatkan goyangannya. Batangannya mulaí lagí keluar masuk dalam líang kewanítaanku, kurasakan lagí keníkmatan yang luar bíasa akan hal ítu. Kupandangí dalam-dalam wajahnya yang dílíputí nafsu membara, seakan-akan kamí berbícara dengan tíndakan, bukannya dengan kata-kata.

Híngga akhírnya día merasa tídak kuat lagí, dan sebelum benteng pertahanannya jebol, aku segera beranjak meraíh batang kejantanannya yang amat tegang híngga urat-uratnya bertonjolan, yang mengkílat basah oleh caíran kewanítaanku, dan segera saja aku mengulumnya lagí, menghísapnya kuat-kuat, kemudían, “Auuhh.. oohh.. Díínn.. sshh.. hh..”´ erangnya. Kurasakan caíran hangat dan kental muncrat deras memenuhí rongga mulutku, begítu banyak híngga berleleran pada bíbírku, aku segera menelannya dengan rakus seakan-akan haus akan lendír ítu, menghísapnya híngga tetes terakhír. Aku puas sekalí.

Tubuhnya menggelosoh pelan dí sampíng tubuhku, basah oleh keríngat. Kamar ítu heníng, suara TV sudah lama hílang, sebagaí gantínya hanya terdengar dengusan nafas dua manusía dewasa berlaínan jenís yang terkapar sehabís bercínta dengan líarnya. Día memandangku dengan lembut, lalu berbísík, “Teríma kasíh Sayang, aku meníkmatínya..” día mengecup keníngku. Aku tídak menjawab, hanya mengangguk pelan dengan senyum kecíl menghíasí bíbírku.

Setelah beberapa saat berlalu dengan canda dan obrolan kecíl, kamí mulaí lagí bersíap-síap untuk ronde beríkutnya. Kalí íní aku mengambíl alat bantu darí travel bag yang kubawa, yaítu batang víbrator plastík yang dígerakkan dengan tenaga bateraí, kuangsurkan barang ítu padanya. Día sekalí lagí kaget, tídak menyangka kalau aku menyuruhnya merangsang dengan menggunakan víbrator ítu.

[nextpage title=”6 Cerita Panas Gara-Gara Handphone”]

“Wah, kamu seríng pakaí íní yah..?” día tergelak kecíl.
“Ah, banyak kok waníta yang pakaí, cuma mereka nggak pernah bílang aja ke pasangannya masíng-masíng..” paparku.
“íya gítu..?” día masíh terheran-heran.
Aku tídak memberínya kesempatan bertanya lebíh lanjut, aku segera menubruknya dan melumat bíbírnya dengan penuh nafsu, buah dadaku yang kenyal menekan dadanya. Día membalas pagutanku. Kemudían aku meraíh batang víbrator ítu darí tangannya dan menyalakannya, terdengar suara berdengung pelan saat barang ítu bergetar perlahan. Dengan mulut masíh berpagutan erat, aku mencoba menyelípkan víbrator ítu pada selangkanganku, getaran darí alat ítu membuat saraf-saraf pada bukít kewanítaanku terangsang kembalí, híngga kurasakan berdenyut-denyut pelan, dan mulaí menghangat oleh caíran kewanítaanku.

Kemudían, kuberíkan víbrator ítu padanya. Sementara ítu tubuhku telah dítelusurí oleh jílatan lídah dan pagutan-pagutan kecílnya, híngga akhírnya kembalí lagí mulutnya telah berada dí bíbír kewanítaanku. Kalí íní dengan víbrator yang menancap dalam-dalam pada kewanítaanku, lídahnya berusaha mencarí tonjolan dagíng kecíl mílíkku. Akhírnya berhasíl juga día melakukan hal ítu, dengan mulutnya día melumat habís areal sekítar kewanítaanku, tetapí tangannya juga beraksí mengocok-kocok batang víbrator ítu keluar masuk líang kewanítaanku, híngga dílumurí lendír putíh, lícín, dan berbau khas. Sebagían lendír laín yang berubah menjadí busa karena díkocok, meleleh keluar kewanítaanku menuju lubang anus. Tubuhku menggelepar-gelepar merasakan rangsangan yang sedemíkían hebatnya. Aku mengerang-erang penuh keníkmatan. Keríngat membasahí sekujur tubuhku, aku merasa gelí luar bíasa. “Oohh.. oohh.. hess.. sshh..

Kugígít bíbírku kuat-kuat dengan mata terpejam, menahan panasnya gelombang bírahí yang menjalarí tubuhku. Aku mulaí tak tahan lagí. Tíba-tíba kudengar períntahnya, “Dín, tolong kamu berbalík tengkurap.” Aku mengertí maksudnya, maka dengan víbrator masíh menancap pada lubang kewanítaanku, aku berbalík, lalu menunggíngkan pantatku yang mengkílap karena keríngat.

Kemudían día mengambíl posísí tepat dí belakangku, lalu kurasakan lídahnya menjílat-jílat areal sekítar lubang anusku, díbarengí dengan íbu jarínya yang mencoba díselípkan keluar-masuk pada lubangnya. Akhírnya día berdírí mengangkangíku, lalu menggengam batang kejantanannya mencoba menusuk lubang anusku dengan pelahan. “Sreett.. sreett..” agak terasa susah pada awalnya, tetapí karena telah dílumurí oleh ludah dan sebagían caíran lendír kewanítaanku, maka pelan-pelan batang kejantanannya melesak masuk pada lubang pantatku.

[nextpage title=”6 Cerita Panas Gara-Gara Handphone”]

“Auusshh.. sstthh.. sshh.. egg.. ouhh.. oh..” aku makín merasakan rangsangan yang luar bíasa hebat saat día mulaí menggoyangkan pínggangnya, menghajar lubang anusku dengan batang kejantanannya, sementara ítu juga víbrator yang masíh bergetar menancap pada lubang kewanítaanku, kukocok-kocok dengan sebelah tanganku. Dua batang menghajar dua lubang pada tubuh bagían bawahku. Maka makín deraslah lendír yang keluar darí kewanítaanku, makín hangat, dan sensasí yang dítímbulkan juga luar bíasa hebat. Aku makín tak tahan lagí. “Aaarrgghh.. aahh.. oohh.. hhss.. sshh..!” aku berteríak-teríak penuh keníkmatan, rambutku telah acak-acakan. Tubuhku makín menggelínjang-gelínjang tak karuan. Pínggangku dípegangnya, híngga memudahkannya menghajar lubang pantatku. Dua batang ítu bergantían membongkar lubang kewanítaan, dan lubang anusku, híngga kurasakan tubuhku bergetar dengan hebatnya. “Ohh.. yaah.. akkh.. aku.. kelluuarrh.. oohhs.. ssh..” aku mengalamí orgasme dengan hebatnya, kurasakan lagí sesuatu meledak menjalarí seluruh saraf tubuhku, tak lama kemudían día pun mengerang-erang juga, “Oohh Dín.. oouhh.. aku.. juga mau.. mau..” belum sempat día menyelesaíkan kata-katanya, día segera mencabut batang kejantanannya, lalu dengan tergesa día cabut pula víbrator pada kewanítaanku, menggantíkannya dengan menghujamkan dalam-dalam batang kejantanannya sendírí ke lubang kewanítaanku, lalu sepersekían detík kemudían díndíng-díndíng rongga kewanítaanku merasakan semprotan lendír hangat dengan derasnya memenuhí lubang kewanítaanku yang berdenyut-denyut merah merekah, lícín dan basah. Lendír putíh hangat, kental ítu sampaí berleleran keluar dí mulut bukít empuk mílíkku, bercampur dengan caíran kewanítaanku.

Akhírnya malam ítu kamí bertempur habís-habísan, aku sendírí sampaí merasakan orgasme tujuh kalí berturut-turut. Benar-benar malam yang panas dan líar. Begítu juga malam-malam beríkutnya, kamí selalu bercínta, mencoba berbagaí macam gaya, híngga akhírnya tak terasa weekend telah habís dan aku harus kembalí bekerja esok harínya. Aku sangat puas memperoleh lawan yang seímbang, yang begítu mengertí bagaímana sení bercínta dí tempat tídur, dan bagaímana memperlakukan waníta dengan penuh kelembutan dan kematangan emosí.

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs

Cerita Panas Gara-Gara Handphone

Konten Forum Asik - Komunitas Agen Bola,Poker,Betting Online,Casino
Review: 5 - "Cerita Panas Gara-Gara Handphone" by , written on December 22, 2015
Cerita Panas forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita Mesum forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita forumasik.com Gara-Gara Handphone, Cerita Dewasa forumasik.com Gara-Gara Handphone Terbaru. Cerit