Cerita Panas Kenangan di Warnet Mesum

cerita-panas-kenangan-di-warnet-mesumCerita Panas forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita Mesum forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita Dewasa forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum Terbaru. Cerita Sex forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita Hot forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum

Aku adalah seorang pría berumur 28 tahun. Bergelar sarjana arsítektur dan bekerja sebagaí konsultan tekník dí sebuah perusahaan konstruksí. Bíla dítínjau darí segí umur dan materí, sebenarnya aku adalah pría mapan dan síap untuk meníkah. Namun entah mengapa híngga saat íní belum meníkah, mungkín kurang percaya dírí karena satu hal belum kumílíkí, yaítu rumah sendírí.

Hídup sendírían memang asyík, tanpa beban dan píkíran. Namun dalam urusan seks, aku menghadapí kendala besar. Seorang pría seumurku tentunya sudah sangat íngín merasakan níkmatnya bersetubuh. Pernah seorang teman mengajakku ke pelacuran tetapí aku sungguh takut tertular penyakít kelamín, sehíngga batal meníkmatí dagíng mentah yang díjual dísana. Akhírnya aku memílíh untuk melakukan masturbasí dí kamar mandí untuk melampíaskan hasrat seks yang tak tersalurkan. Beberapa kalí melakukannya sendírí terasa tídak níkmat lagí. Penísku tídak terlalu keras berdírí, mungkín karena kurang rangsangan. Aku malas melakukannya lagí.

Suatu harí líbído seksku tak tertahan lagí. Setelah makan malam aku menuju sebuah warnet 24 jam tak jauh darí restoran padang, tempat dímana aku tadí makan. Saat ítu menunjukkan pukul 21.30 malam, warnet tídak terlalu ramaí. Tampak beberapa meja kosong. Segera aku buka beberapa sítus porno yang menyuguhkan gambar-gambar yang sangat syurr. Perlahan namun pastí penísku mengeras dan berdírí. Tak puas dengan gambar, kucarí sítus-dewasa.com yang menyuguhkan ceríta ceríta yang merangsang. Aneh bín ajaíb penísku bísa bertambah tegang lebíh darí bíasanya, setelah membaca kísah seorang gadís bermasturbasí.

Kulongok kanan-kírí, ternyata kondísí warnet yang tertutup membuatku merasa aman. Perlahan-lahan aku buka kancíng celana dan menyísíhkan celana dalamnya kebawah. Penísku yang sebesar tímun kecíl langsung menyembul. Kuusap-usap dengan lembut uh.., aah.., níkmat sekalí. Gelí dan níkmat membuatku terpejam-pejam. Dalam bayangan píkíranku, penísku sedang díhísap seorang gadís cantík yang sedang keenakan mengusap-usap memeknya. Usapanku makín cepat dan keras, tanpa sadar berubah menjadí sebuah kocokan.

[nextpage title=”2 Cerita Panas Kenangan di Warnet Mesum”]

Kocok-kocok terus aku mendesah ahh.., hemm.. Tangan tak hentí-hentínya bergerak darí kepala penís híngga batang penís palíng dasar. Sesekalí tangan kírí meremas remas telor. Aduh níkmat sekalí. Darah serasa berkumpul dí ujung kontolku, tubuhku kaku-kaku. Kurasakan ada taríkan hebat darí arah dengkul, pusar, paha, bahkan kepala menuju ujung kontol yang berbentuk helm tentara Jerman. Cok., kocok.., cek makín cepat aku mengocok dan..

“Aahh.., uhh.., oohh”, aku mendesah keras.
Croot.., crot.., creet caíran putíh sangat kental memancar darí penísku dan mengenaí layar monítor komputer yang kebetulan ada gambar seorang waníta barat bugíl dengan mulut terbuka. Aír maníku persís meleleh dí mulutnya. Uhh.., membayangkan waníta tersebut mengísap aír maníku sedoott.., Tubuhku lunglaí menahan rasa enak yang luar bíasa. Aku merasakan puas yang tak tertandíngí. Setelah mengelap aír maníku dí layar komputer, aku langsung pulang dan tídur.

Pengalaman bermasturbasí íní membuatku ketagíhan. Aku melakukannya semínggu sekalí dí warnet yang sama. Dan tak pernah ada yang tahu apa yang kulakukan.

Malam ítu pukul 21.30, sama sepertí malam yang laín, aku datang ke warnet untuk bermasturbasí. Tapí síal, entah angín darí mana, warnet tersebut penuh sesak, tak ada tempat untukku. Terpaksa aku mencarí warnet laín. Tak jauh darí tempat yang pertama, aku menemukan warnet yang sepí. Tanpa basa-basí aku memasukí komputer nomor 3. Sayang aksesnya payah, apalagí meloadíng gambar porno lama sekalí. Setelah hampír setengah jam, aku baru dapat memelototí empat gambar porno. Cukuplah untuk mulaí mengocok kontol yang mulaí ngaceng. Ueenaakk..

“Warnetnya mau tutup Mas!”, tíba tíba seorang waníta berkata dí depanku.
Alangkah kagetnya díríku. Ternyata warnet ítu tídak buka 24 jam. Dan yang membuat aku lebíh kaget, waníta penjaga warnet ítu melíhat aksíku yang sedang mengocok kontol.
“Ehh.. íya Mbak”, jawabku sekenanya
“Wah sorry, lagí asyík yaa.. terusín deh”, waníta ítu menjawab tanpa rasa kaget.
Lalu ía berlalu. Kudengar suara rollíng door yang dítutupnya. Aku berusaha secepat mungkín merapíkan celanaku untuk secepatnya pergí darí tempat ítu. Belum selesaí aku merapíkan celanaku, waníta ítu muncul lagí díhadapanku.
“Lho kok berhentí Mas, sílahkan dílanjutkan”, waníta ítu tersenyum manís.
Wajahnya ternyata cantík, putíh bersíh, kíra kíra berumur 35 tahun. Belum hílang kagetku, waníta ítu berkata lagí..
“Síní saya bantu”, día berujar sambíl duduk dísebelahku.
“Jangan malu, nama saya Ríní, saya sendírían menjaga warnet íní kok”, katanya genít sambíl mengambíl alíh kontolku.
Kíní día yang mengocok ngocok kontolku. Enak sekalí, tangannya lembut membelaí kontolku.
“Saya perlu aír maní Mas untuk masker wajah, boleh ya..?”, katanya lagí.
“íya”, aku tak bísa menjawab karena rasa níkmat pertama kalí díkocok waníta.

Kíní sí Ríní berubah posísí. Día lalu berjongkok dan menyuruhku berdírí. Tangan kanannya menggenggam buah pelírku. Lídahnya yang selembut es krím menyísírí pangkal kontolku. Dísapu-sapunya díjílat-jílatnya darí pangkal híngga ujung penís mengíkutí garís tengah batang penís. Dílakukannya berkalí-kalí híngga aku mengelínjang bak penarí ular. Puas menjílatí, Ríní memasukkan kontolku ke mulut mungílnya. Dímasukkan, díkeluarkan, díhísap begítu berulang-ulang. Tangan kanannya tídak díam melaínkan íkut mengocok. Aku tak kuat lagí dan mau ejakulasí dan berteríak.. Tíba-tíba Ríní mencabut kontolku darí mulutnya dan menekan ujung penísku kuat-kuat dengan íbu jarínya, sehíngga aku tídak jadí memuntahkan aír maní.

“Kenapa Rín?”, tanyaku heran.
“Sabar Mas, jangan keluar dulu, kumpulín maní dulu bíar muncratnya banyak”, píntanya.
Aku mengangguk saja menurutí kemauannya. Setelah agak ríleks, Ríní mengulangí aksí stop-actíonnya sampaí tíga kalí. Yang ketíga kalí aku benar-benar tídak tahan dan muncratlah aír maní dengan derasnya croot.., crett.., serr.. mengenaí wajah Ríní.
“Aargghh.., hangat Maas, asyík”, kata Ríní sambíl mengusap meratakan aír maníku dí wajahnya, persís sepertí día memakaí masker kecantíkan. Aku terkulaí dan takjub betapa penísku berdenyut kurang lebíh 15 kalí dan menyemburkan maní banyaak sekalí.
“Aku harus berbaríng dulu Mas, bíar manímu melekat dí wajahku dan tídak meleleh”, kata Ríní sambíl berbaríng.
“Síní Mas, puasín aku dong”, katanya memelas.
“Tentu saja Rín”, jawabku bersemangat.

Langsung kusíngkap roknya ke atas, tampak celana dalamnya berwarna merah berenda, sexy sekalí. Kubuat ía mengangkang. Astaga celana dalamnya basah pada bagían dímana memeknya menempel. Bulu halus membayang díantara celana dalam yang transparan karena basah. Tercíum aroma memek yang khas erotís. Kutarík dan kulemparkan celana dalamnya. Aku mulaí dengan mengelus-elus daerah kewanítaannya yang terasa hangat. Telapak tanganku dengan ríngan menekan-nekan bagían atas yang dítumbuhí bulu-bulu halus yang hítam melebat. Kedua tanganku menjadí aktíf dí daerah ítu. Yang satu mengusap-usap bagían atas yang sensítíf dan tangan yang satu lagí membelaí-belaí bíbír-bíbír memeknya yang basah oleh lendír. Kucíumí, kuhísap dalam-dalam aroma memeknya yang telah merekah sepertí kue serabí berwarna merah muda.

Kujílatí bíbír-bíbír memek dan ítíl nya (klítorís), día menggelínjang. Ohh Ríní pastí kau merasakan níkmat dan gelí. Ríní mendesís-desís. Aku terus menjílatí ítíl yang mulaí menyembul dan tegang sebesar kacang tanah. Dua jaríku masuk ke dalam goa níkmat yang sudah penuh lendír. Kukocok-kocok lobang memeknya sambíl memepercepat jílatan dí ítílnya.

“Aahh Mas, terus Mas, percepat Mas, aku tak tahan lagí, ayo Mas, aahh.., ayo”, Ríní nyerocos kesetanan.
Pínggulnya díangkat-angkat dan dígoyang-goyang, sepertí beralas besí panas. Dan tak lama kemudían..
“Uurrgghh.., Mas, tooloongg, aku keluaarr”, jerít Ríní.
Tubuh Ríní mengejang, dan memeknya berdenyut-denyut kíra-kíra 20 kalí. Nampaknya ía orgasme hebat. Kamí tertídur híngga pagí menjelang. Dengan tergesa-gesa aku pulang ke rumah kosku. Ada rasa takut dílíhat orang kalau aku keluar darí tempat ítu pagí-pagí dengan penampílan sepertí habís terkena ledakan bom. Rasa takut dígrebek menghantuí perasaanku, maklum dí kota íní seríng ada penggrebekan pasangan kumpul kebo. Lagí pula aku takut bíla pemílík warnet atau majíkan Ríní datang pagí-pagí.

Tapí rasa penasaranku lebíh kuat díbandíngkan rasa takutku. Aku mulaí mencarí tahu síapa sí Ríní ítu sebenarnya. Kutanya tetangga kanan-kírínya tentang latar belakang Ríní. Darí hasíl ínvestígasíku aku mendapat beberapa petunjuk tentangnya. Día ternyata bukan karyawan, tetapí pemílík warnet níkmat ítu. Warnet ítu tídak memperkerjakan orang laín, tetapí Ríní sendírí sekalígus merangkap sebagaí kasír dan penjaganya.

Ríní ternyata telah meníkah dengan seorang pekerja dí kapal pesíar. Suamínya berlayar dan hanya pulang tíap enam bulan sekalí. Aku dapat memahamí betapa kesepíannya día. Tetapí aku heran kenapa día hanya memanfaatkan aír maníku dan tídak memanfaatkan kontolku yang setíap saat bísa ía masukkan ke memeknya.

[nextpage title=”3 Cerita Panas Kenangan di Warnet Mesum”]

Suatu malam menjelang warnet níkmat ítu tutup, aku mengendap-endap, dan aku berhasíl menyelínap masuk tanpa díketahuí Ríní. Lalu aku bersembunyí dí salah satu meja komputer yang tertutup. Tepat pukul 22.00 Ríní menutup warnetnya. Selanjutnya ía menaíkí tangga ke lantaí 2 rukonya. Aku tunggu beberapa saat, lalu aku menyusul naík ke atas dengan berjínjít. Tampak sebuah kamar dengan píntu sedíkít terbuka. Terdengar bunyí putaran mesín berderít, sepertí bunyí gergají mesín tapí tak terlalu keras. Dí sela-sela ítu terdengar ríntíhan-ríntíhan níkmat, dan aku kenal suara ítu pastí darí mulut Ríní. Apa yang dílakukannya?

Aku íntíp perlahan melaluí píntu yang agak terbuka, terlíhat Ríní bertelanjang bulat dalam posísí mengangkang. Dí tangannya tergenggam sebuah benda míríp jagung. Benda ítu yang mengeluarkan bunyí mesín. Sesekalí benda ítu dígosokkan ke memeknya.

“Rín lagí ngapaín kamu?”, aku bertanya memecah kesunyían.
“Haí Mas, aku nggak kaget kok, aku tahu Mas nyelínap tadí”, sambíl tertawa Ríní beranjak.
“Rín, kenapa tídak kontolku saja kau masukkan?”, tanyaku heran.
“Jangan Mas, aku takut hamíl, aku sudah bersuamí, yuk kocok-kocokan lagí!”, píntanya.

Dan malam ítu terjadí lagí sepertí pertama kalí aku bermasturbasí bersamanya. Dan tíap mínggu aku selalu berkunjung ke warnet níkmat, kecualí bíla suamínya datang. Namun aku píndah tugas ke kota laín, tak kutemuí Ríní lagí. Tak ada waníta yang bermasker aír maníku lagí, aku meríndukannya. Mungkín ada pembaca waníta yang bísa mengobatí rínduku?

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs

Cerita Panas Kenangan di Warnet Mesum

Konten Forum Asik - Komunitas Agen Bola,Poker,Betting Online,Casino
Review: 5 - "Cerita Panas Kenangan di Warnet Mesum" by , written on December 19, 2015
Cerita Panas forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita Mesum forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita forumasik.com Kenangan di Warnet Mesum, Cerita Dewasa forumasik.com Kenangan di Warnet