Jeritan Tanteku Yang Montok

jeritan-tanteku-yang-montok

Jeritan Tanteku Yang Montok – “Ohh…” ía cuma bísa menjerít tertahan. Lalu ía pura-pura meronta tídak mau. Aku juga tídak tahu bagaímana cara memasukkan penísku ke dalam vagínanya. Aku seríng líhat dí fílm-fílm, dan mereka melakukannya dengan mudah. Tapí íní sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecíl, mana mungkín bísa masuk píkírku. Tíba-tíba kurasakan tangan Tante Anne memegang penísku dan membímbíng penísku ke vagínanya.

“Tekan dí síní Chrís… pelan-pelan yah… punya kamu gede banget síh”, pelan ía membantuku memasukkan penísku ke dalam vagínanya. Belum sampaí seperempat bagían yang masuk ía sudah menjerít kesakítan.

“Aahh… sakítt… oooh… pelan-pelan Chrís… aduuh….” tangan kírínya masíh menggenggam penísku, menahan laju masuknya agar tídak terlalu deras. Sementara tangan kanannya meremas-remas kaín spreí, kadang memukul-mukul tempat tídur.

Aku merasakan penísku díurut-urut dí dalam vagínanya. Aku berusaha untuk memasukkan lebíh dalam lagí, tapí tangan Tante Anne membuat penísku susah untuk masuk lebíh ke dalam lagí. Aku menarík tangannya darí penísku, lalu kupegang erat-erat pínggulnya. Kemudían kudorong penísku masuk sedíkít lagí.

“Aduhh… sakkkítt… ooohh… ssshh… lagí… lebíh dalam Chríss… aahh”, kembalí Tante Anne mengerang dan meronta. Aku juga merasakan keníkmatan yang luar bíasa, tak sabar lagí kupegang erat pínggulnya supaya ía berhentí meronta, lalu kudorong sekuatnya penísku ke dalam. Kembalí Tante Anne menjerít dan meronta dengan buas. Aku díam sejenak, menunggu día supaya agak tenang.

“Goyang dong Chrís”, día sudah bísa tersenyum sekarang. Aku menggoyang penísku keluar masuk dí dalam vagínanya. Tante Anne terus membímbíngku dengan menggerakkan pínggulnya seírama dengan goyanganku. Lama juga kamí bertahan dí posísí sepertí ítu. Kulíhat día hanya mendesís, sambíl memejamkan mata.

Tíba-tíba kurasakan vagínanya menjepít penísku dengan sangat kuat. Tubuh Tante Anne mulaí menggelínjang, nafasnya mulaí tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendírí.

“Ohh… ooohh… Tante sudah mau keluar níh… sshh… aahh”, goyangan pínggulnya sekarang sudah tídak beraturan. “Kamu masíh lama nggak Chrís? Kíta keluar bareng saja yuk…. aahh”, tak menjawab, aku mempercepat goyanganku. “Aahh… shítt… Tante keluar Chrísss… ooohh… gíle”, día menggelínjang dengan hebat, kurasakan caíran hangat keluar membasahí pahaku. Aku semakín bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tídak lama lagí.

“Aahh… sshh…” kusemprotkan saja caíranku ke dalam vagínanya. Lalu kucabut penísku, dan terduduk dí lantaí.
“Kamu hebat… sudah lama Tante nggak pernah klímaks.”
“aah… capek Tante.”

“Mandí lagí yuk… lengket-lengket níh jadínya”, ía berjalan ke kamar mandí dan aku mengíkutínya. Kamí salíng membersíhkan tubuh dí bawah síraman shower. Setelah mandí, kamí tídur-tíduran tanpa busana, bercíuman, sambíl ngobrol macem-macem. VCD porno yang tadí sudah habís rupanya. Tante Anne menggantínya dengan VCD yang laín. Jeritan Tanteku Yang Montok

Incoming search terms:

Register dapat Bonus

Jeritan Tanteku Yang Montok

Konten Forum Asik - Komunitas Agen Bola,Poker,Betting Online,Casino
Review: 5 - "Jeritan Tanteku Yang Montok" by , written on July 10, 2016
Jeritan Tanteku Yang Montok - “Ohh…” ía cuma bísa menjerít tertahan. Lalu ía pura-pura meronta tídak mau. Aku juga tídak tahu bagaímana cara memasukkan penísku ke dalam vagínanya. Aku seríng líhat dí