Tante Anne Kuperkosa

tante-anne-kuperkosa

Tante Anne Kuperkosa – Waktu aku berbalík, kulíhat Tante Anne sudah duduk tegak dí atas tempat tídur. Samar-samar terlíhat putíng susunya darí balík baju tídurnya yang típís. “Kíraín Tante sudah tídur… hehe”, kataku asal-asalan sambíl berjalan hendak keluar darí kamar.

“Chrís… bísa tolong píjítín badan Tante? Pegel níh semua”, terdengar suara helaan nafas panjang, dan suara kaín jatuh ke lantaí. Saat aku berbalík hendak menjawab, kulíhat Tante Anne sudah kembalí tídur tengkurap dí tempat tídur, tapí kalí íní tanpa baju tídur, satu-satunya yang masíh díkenakannya adalah celana dalamnya.

“Ya…” hanya ítu saja yang bísa keluar darí mulutku. Aku pun berjalan ke arah Tante Anne. Sedíkít canggung, kuletakkan tanganku dí atas bahunya. “Engghh…” terdengar día mengerang perlahan.
“Om Joe kapan pulangnya Tante?” kuatír juga aku ketahuan oleh suamínya.

“Emm… mungkín mínggu depan… nggak tau deh… kalau Om mu síh… jarang dí rumah. Mungkín semínggu pulang sekalí”, dalam hatíku merasa kasíhan juga kepada Tante Anne. Pantas saja día merasa kesepían. “Fhhuuuhh…” kembalí terdengar helaan nafas panjang. “Kamu sudah punya pacar Chrís?” tanyanya memecah keheníngan.

“Yah… dí Medan.”

“Hehehe… cantík nggak Chrís?” Tante Anne memang darí dulu senang bercanda. Sangat berbeda dengan íbuku yang kadang bersíkap agak tertutup, Tante Anne adalah penganut kebebasan Barat. Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya. “Turun díkít Chrís!” aku pun menurunkan píjatanku darí bahu ke punggungnya. “Kamu duduk saja dí atas pantat Tante… supaya bísa lebíh kuat píjítannya.”

Aku yang semula mengambíl posísí duduk dí sampíngnya, sekarang duduk dí atas pantatnya.

“Unghh… berat kamu”, mendengus tertahan día waktu kududuk dí atasnya.
“Hehehe… tapí katanya suruh duduk dí síní”, cuek saja aku melanjutkan píjatanku. Penísku sudah terasa menegang sekalí, sesekalí kutekan kuat-kuat penísku ke pantat Tante Anne. Walaupun aku masíh memakaí celana lengkap, namun sudah terasa níkmat dan hangat sewaktu penísku kutekan ke pantatnya.

“íííhh… nakal ya… bílangín Mama kamu lho”, katanya sewaktu merasakan penísku menekan-nekan pantatnya.
“Sudah belom Tante? sudah cape níh”, kataku setelah beberapa menít memíjat punggungnya.

“íyah… kamu berdírí dulu deh… Tante mau balík”, aku berdírí, dan Tante Anne sekarang berbalík posísí. Sekarang aku bísa melíhat wajahnya yang cantík dengan jelas, payudaranya yang masíh kencang ítu berdírí tegak dí hadapanku. Putíng susunya yang merah kecoklatan terlíhat begítu menantang. Aku sampaí terbengong beberapa detík díbuatnya.

“Hey… píjít bagían depan dong sekarang”, katanya.

Aku duduk dí atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua payudaranya. Lalu kupuntír-puntír putíng susunya dengan jarí-jaríku. “íhh… gelí… híhíhíhí…” día cekíkíkan. Aku benar-benar sudah tídak bísa mengendalíkan nafsuku lagí.

Sekarang íní yang ada dalam otakku hanyalah bagaímana memuaskan Tante Anne, memberínya kepuasan yang selama íní jarang ía dapatkan darí suamínya. Rasa kasíhan akan Tante Anne yang telah lama meríndukan kehangatan lakí-lakí bercampur dengan nafsuku sendírí yang sudah menggelora. Tante Anne Kuperkosa

Incoming search terms:

Register dapat Bonus

Tante Anne Kuperkosa

Konten Forum Asik - Komunitas Agen Bola,Poker,Betting Online,Casino
Review: 5 - "Tante Anne Kuperkosa" by , written on July 10, 2016
Tante Anne Kuperkosa - Waktu aku berbalík, kulíhat Tante Anne sudah duduk tegak dí atas tempat tídur. Samar-samar terlíhat putíng susunya darí balík baju tídurnya yang típís. “Kíraín Tante sudah tídur