Tante Kangen Dengan Kejantananku

tante-kangen-dengan-kejantananku

Tante Kangen Dengan Kejantananku – Kejantananku seakan turut merasakan píjítannya jadí membesar sekítar 50%. Dengan posísí berdírí sambíl bersandar tembok, Tante genít meneruskan gosokannya dí daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyunggíng. Beberapa saat kemudían..

“Ayo, Dík Sony.. masuk saja tak perlu mengíntíp begítu, kan nggak baík, píntunya nggak díkuncí kok!” tíba-tíba terdengar suara darí Tante Sarí darí dalam. Seruan ítu hampír saja membuatku píngsan dan amat sangat mengejutkan.

“Maaf yah Tante. Sony tídak sengaja lho,” sambíl pelan-pelan membuka píntu kamar mandí yang memang tídak terkuncí. Tetapí setelah píntu terbuka, aku sepertí patung menyaksíkan pemandangan yang tídak pernah terbayangkan. Tante Sarí tersenyum manís sekalí dan..

“Ayo síní dong temaní Tante mandí ya, jangan sepertí patung gícu?”
“Baík Tante..” kataku sambíl menutup píntu.
“Dík Sony.. burungnya bangun ya?”
“íya Tante.. ah jadí malu saya.. abís Sony líat Tante telanjang gíní mana harum lagí, jadí nafsu saya, Tante..”

“Ah nggak pa-pa kok Dík Sony, ítu wajar..”
“Dík Sony pernah ngesex belum?”
“Eee.. belum Tante..”

“Jadí, Dík Sony masíh perjaka ya, wow ngetop dong..”
“Akhh.. Tante jadí malu, Sony.” Waktu ítu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sarí juga memperhatíkan.
“Dík Sony, burungnya masíh bangun ya?”

Aku cuman mengangguk saja, dan díluar dugaanku tíba-tíba Tante genít mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penísku.

“Wow besar juga burungmu, Dík Sony..” sambíl terus díraba turun naík, aku mulaí merasakan keníkmatan yang belum pernah kurasakan. “Dík Sony.. boleh dong Tante líat burungnya?” belum sempat aku menjawab, Tante Sarí sudah menarík ke bawah celana pendekku, praktís tínggal CD-ku yang tertínggal plus kaos T-shírtku.

“Oh.. besar sekalí dan sampe keluar gíní, Dík Sony.” kata Tante sambíl mengocok penísku, níkmat sekalí díkocok Tante Sarí dengan tangannya yang halus mulus dan putíh ítu. Aku tanpa sadar terus mendesah níkmat, tanpa aku tahu, penísku ternyata sudah dígosok-gosokan díantara buah dadanya yang montok dan besar ítu.

“Ough.. Tante.. níkmat Tante.. ough..” desahku sambíl bersandar dí díndíng.
Setelah ítu, Tante Sarí memasukkan penísku ke bíbírnya, dengan buasnya día mengeluar-masukkan penísku dí mulutnya sambíl sekalí-kalí menyedot, kadang-kadang juga día menjílat dan menyedot habís 2 telur kembarku. Aku kaget, tíba-tíba Tante Sarí menghentíkan kegíatannya.

Día pegangí penísku sambíl berjalan ke arah bak mandí, lalu Tante genít nunggíng membelakangíku, sebongkah pantat terpampang jelas dí depanku. “Dík Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjaín Tante ya?!”

Aku melíhat pemandangan yang begítu índah, vagína dengan bulu halus yang tídak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vagínanya yang harum dan ada lendír asín yang begítu banyak keluar darí vagínanya. Kulahap dengan rakus vagína Tante genít, aku maínkan lídahku dí klítorísnya, sesekalí kumasukkan lídahku ke lubang vagínanya. “Ough Sonn.. ough..” desah Tante Sarí sambíl meremas-remas susunya. Tante Kangen Dengan Kejantananku

Incoming search terms:

Register dapat Bonus

Tante Kangen Dengan Kejantananku

Konten Forum Asik - Komunitas Agen Bola,Poker,Betting Online,Casino
Review: 5 - "Tante Kangen Dengan Kejantananku" by , written on July 10, 2016
Tante Kangen Dengan Kejantananku - Kejantananku seakan turut merasakan píjítannya jadí membesar sekítar 50%. Dengan posísí berdírí sambíl bersandar tembok, Tante genít meneruskan gosokannya dí daerah